Sabtu, 24 Oktober 2015

CERBUNG

Lentera Hati # 2

Wanita itu lalu memulai hari pertamanya dengan memperkenalkan diri kepada kami semua. Dan tentu saja aku tidak terlalu menghiraukannya ketika ia berbicara. Aku sama sekali tidak peduli dengan wanita otoriter itu.
“perkenalkan nama saya Ema Lusita. Kalian boleh memanggil saya Ibu ema. Saya adalah guru pindahan dari SMA Karya. Saya bukan orang yang menerima alasan. Terutama dalam hal kehadiran, jadi ketika menghadiri kelas saya kalian semua harus tepat waktu. Saya juga wali kelas kalian. Ada pertanyaan?”
Semua siswa menggeleng, aku kemudian mengangkat tangan ku
“kau lagi?” tanya bu ema dengan wajah dinginnya
“saya hanya ingin bertanya, kenapa tadi ibu lebih membela hayat dari pada saya. Padahal ibu juga tau kan bahwa saya yang lebih dulu duduk ditempat itu” tanya ku dengan tatapan tajam seakan ingin mengalahkan tatapan wanita itu
“saya hanya membuat keputusan dengan cepat agar jam pelajaran kalian semua tidak habis hanya untuk menyelesaikan pertengkaran kalian berdua”
“tapi kenapa saya harus mengalah untuk anak angkuh itu?”
“karena itu adalah keputusan saya. Didalam kelas saya, keputusan yang  saya selalu benar. Jika keputusan saya salah ingat kalimat sebelumnya. Mengerti?”
Mendengar jawaban wanita itu, aku menghentikan tatapan ku. Lalu menghapus semua pertanyaan yang sejak tadi muncul didalam benakku.
Hari  itu saat istirahat pertama, aku segera menuju kekantin sekolah. Rasanya aku ingin memakan semua orang yang sejak tadi mengganggu ku, terutama anak sok kaya itu. Sesampai dikantin aku segera duduk di sebelah Danar dan Tia yang sedang berdiskusi
“kamu masih kesal dengan hayat ya ga?”ucap Tia yang langsung melempar pertanyaan padaku ketika aku duduk didekatnya dengan wajah yang tidak karuan
“shttt... jangan tanya, nanti malah kau yang kena”ucap Danar seakan bisa membaca kemarahanku yang tak perlu ditanyakan lagi ini
“oke, baiklah. Tapi menurutku bu Ema ada benarnya ga. Kau seharusnya tak perlu bertengkar dengan hayat. Kau tau? Ternyata selain ayahnya yang kaya, ayahnya juga merupakan pemilik sekolah ini”jelas tia panjang lebar tetapi aku tak menghiraukannya
“sudahlah. Jangan biacarakan bu Ema. Kalian tau? wanita itu sudah pernah mengajar disembilan sekolah. Dan sekolah ini adalah sekolah ke sepuluh yang di ajarnya” ucap danar sambil masih sibuk memainkan ponselnya
“benarkah? Wah hebat sekali” ucap tia kagum
“jangan kagum dulu. Kau tau kenapa wanita itu telah mengajar dibanyak sekolah? Itu karena setiap kelas yang beliau pegang selalu mendapatkan nilai terendah. Mungkin itu sebabnya beliau selalu di pindahkan “
“hmmm jika itu benar, kita benar-benar dalam bahaya”ucap tia segera meminum minumannya
“kalau begitu apa menurut kalian kita harus menerima wanita itu begitu saja sebagai wali kelas kita?”tanya ku
“apa maksud pertanyaanmu itu? Apa kau ingin bu Ema pindah lagi kesekolah lain?”tanya tia padaku
“tentu saja.yang benar saja, Masa sekolah menjadikan kelas kita sebagai percobaan untuk wanita itu. Bagaiamana jika kelas kita juga mengalami hal yang sama?”
“kau benar ega, tetapi menurutku kita tetap harus memberi kesempatan pada bu Ema. Kita coba ikuti saja ritme belajar yang beliau berikan”ucap danar padaku
“baiklah... terserah kalian. Tetapi yang pasti wanita itu sudah pernah membuatku sangat tidak menyukainya” ucap ku kesal lalu segera menuju ke kelas tetapi tiba-tiba hayat yang sedang membawa banyak minuman menabrakku
“arghhhh, matamu dimana hah?” ucap ku kesal
“matamu yang dimana? Kau duluan yang menabrakku tadi. Sekarang baju ku kotor. Kau harus minta maaf padaku”
“minta maaf? Yang benar saja. Kalau begitu anggap saja kita impas sekarang”
“mudah sekali kau bicara seperti itu” ucap hayat kemudian hendak memukul ku, tapi dengan samar-samar ku lihat seseorang menahan tangan hayat
“apa yang kau lakukan? Apa kau akan memukul seorang wanita?”ucap bu ema. Ternyata yang menahan tangan hayat adalah bu ema
Mendengar ucapan bu ema, hayat hanya diam. Sedangkan bu ema menggeleng.” Besok, suruh orang tua mu untuk menemui saya” ucap bu ema pada hayat lalu pergi
Hayat terdiam sejenak, lalu menatapku dengan tatapan kesal kemudian pergi. Aku terdiam sejenak, jujur aku sedikit takut dengan tatapan hayat barusan. Aku lalu sadar dari lamunanku lalu segera mengejar bu ema
“bu ema tunggu!”ucap ku sambil berlari menuju kearah bu ema yang terlihat menungguku
“ada apa?”
“aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, karena... karena ibu sudah membela ku tadi”ucapku sambil tersenyum
Bu ema diam, ia tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatapku sejenak lalu pergi. Melihat bu ema, aku sedikit sedih tapi mungkin bu ema memang  orang yang seperti itu. Aku lalu memutuskan untuk kembali kekelas.
Keesokan harinya, seperti biasa aku datang pagi-pagi sekali karena hari ini aku harus piket. Saat masuk kekelas aku melihat hayat yang sedang tertidur di mejanya sambil memegang ponselnya. Karena penasaran aku pun mendekatinya. Terlihat dari wajahnya ia seperti orang yang kurang tidur. Aku lalu mengalihkan fokusku ke arah ponselnya yang terlihat masih menyala. Ponsel hayat menunjukkan pesan yang sudah ia tulis dan belum sempat ia kirim. Pesan itu adalah : “ma, hari ini wali kelas menyuruh mama datang kesekolah”
Aku melihat pesan itu sejenak lalu melamun, tak lama kemudian hayat terbangun lalu menatapku dengan tatapan bingung
“mau apa kau datang sepagi ini?”tanya hayat padaku saat ia bangun
“seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu”balasku dengan nada tidak woles
Hayat hanya diam, tidak seperti kemarin.hari ini hayat sama sekali tidak membalasku. Ia hanya diam dengan wajah datar dan hendak melanjutkan tidurnya
“kau kenapa? Sedang putus dengan pacarmu yah?”tanya ku kepo
Hayat hanya menggeleng. Aku sama sekali tidak suka dengan hayat yang seperti ini.  Aku lalu kemblai fokus pada  tujuan ku utk datang lebih awal kesekolah. Sesekali aku melihat hayat yang memainkan ponselnya. Begitu juga dengan hayat. Tapi ketika ia melihatku, ia segera memalingkan wajahnya.
Akhirnya tak lama kemudian, jam pelajaran pertama pun dimulai. Saat itu, bu ema tidak hadir dan hanya memberikan tugas. Danar bilang, bu ema tidak bisa hadir karena bu ema harus bertemu dengan orang tua hayat. Mendengar ucapan danar hayat pun semakin murung. Terlihat Hayat  sama sekali tidak mengerjakan tugas yang di berikan oleh bu ema. Ia hanya terus memandangi ke arah luar. Dan tiba-tiba saja ia keluar dari kelas, bahkan tanpa izin terlebih dahulu kepada danar. Danar pun hendak mengejar hayat tapi aku cegah
“ada apa ega? Aku harus mengejar hayat sekarang”ucap danar dengan nada terburu-buru
“sebentar, biar aku yang mengejarnya ok!”aku lalu bergegas mengejar hayat tanpa menunggu danar mengiyakan tawaran ku
Aku terus mengikuti hayat sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita di parkiran. “Apakah itu ibunya hayat?” Pikiran itu tiba-tiba saja muncul didalam benakku. Tapi terlihat, wanita itu tidak menghiraukan hayat. Bahkan ketika hayat tersenyum kearah wanita, wanita itu sama sekali tidak membalasnya. Sejenak, aku merasa kasihan pada hayat. Tak lama setelah itu, tiba-tiba hayat melihat kearah ku. Aku tersenyum kepadanya. Tapi hayat hanya menatapku dengan tatapan tajam, seakan ingin mengatakan “ AKU TIDAK PERLU DI KASIHANI”

Bersambung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar