Kamis, 12 Mei 2016

KAMU YANG KU TUNGGU

Pagi hari disebuah Sekolah Menengah Kejuruan(SMK)  terlihat sekumpulan anak laki-laki yang sedang duduk-duduk di depan kelas sambil memainkan gitar.
“akhirnya UN selesai juga ya.. aku benar-benar lega rasanya”ucap Beny dengan senyum sumringan
“selesai sih selesai, tapi ngisinya ngasal atau enggak? Mentang-mentang  hari ini UN terakhir ,jangan-jangan kamu ngisinya ngasal ya?”ucap Danar menatap curiga pada Beny
Mendengar ucapan Danar tadi,  Beny pun hanya bisa nyengir kuda
“sudahlah, yang penting kan kita sudah memberikan yang terbaik. Sisanya biar kita serahkan sama Tuhan. Semoga saja  kita yang masuk kesekolah ini sama-sama bisa lulus sama-sama juga dari sekolah ini ”ucap Rio berusaha memberikan semangat pada teman-temannya
“haha sok bijak kamu yo, dasar RIO TEGUH !!!!” ejek Beny ketika mendengar ucapan Rio
“kalau kamu sih enak yo, kamu sudah pasti lulus. Otak kamu kan encer”
“tau!!! Apalagi muka mu itu ganteng. Pasti kamu lulus deh” tambah Beny
“apaan sih kamu ben? Apa hubungannya muka sama kelulusan?” tanya Rio heran
“tau nih si Beny suka gak nyambung” ucap Danar sambil menggeleng, tapi tiba-tiba saja Danar seperti teringat sesuatu “ o, iya kemarin anak-anak osis ada yg nanya tentang acara perpisahan sekolah. Mereka sih rencananya mau bikin film dokumenter  gitu. Gimana menurut kalian?”
“wah keren tuh!!! Jadi kan kita bisa terkenal sekalian”ucap Beny yang langsung setuju dengan ide tersebut
“Dasar si Beny udah mau lulus aja masih aja mikirin terkenal disekolah. Kalau kamu yo setuju atau nggak?”tanya danar pada Rio yang  sedang melamun
“aku sih setuju-setuju saja. Hanya saja aku tidak terlalu percaya pada anak-anak osis. Kalian masih ingatkan  Tentang  acara api unggun tahun kemarin, katanya mau bikin video dokumentasi osis tau-taunya....” ucapan Rio tiba-tiba terhenti ketika seorang gadis lewat di hadapannya dan menatapnya dengan tatapan tajam
“eh Rio!! Kamu kenapa? Kok diem sih? Apa kamu takut sama si Dhini? Apa setelah acara api unggun itu dia mengancammu?” tanya Danar setelah gadis itu agak jauh dari mereka
“ampun deh Dan... kamu nanya atau apasih kok banyak banget”
“apaan sih Ben, nggak nanya kamu juga. Eh yo... jawab kali!!!”
Terlihat Rio diam sejenak seperti sedang berpikir
“tidak! Hanya saja, aku tidak enak pada Dhini”
“udah lah yo gak usah dimakan si Dhini itu” ucap Beny sambil menepuk pundak Rio
“apaan sih Ben, kok gak nyambung lagi?”ucap Rio dengan tatapan agak kesal pada Beny
“tau!!! Yang bener tuh udah lah yo gak usah dipikirin si Dhini itu. Kamu kok malah bilang  makan sih”
“kok aku lagi? Kan tadi Rio bilang  dia gak enak sama Dhini. Kalau gak enak kan berarti hal-hal yang berkaitan dengan makanan kan? Terus kali ini salahku dimana???” tanya Beny dengan nada kesal pada kedua sahabatnya yang hanya bisa mematung sambil menggeleng
“kamu emang bener Ben, kamu gak salah”ucap Rio
“iya Ben, yang salah itu kami. Kenapa sih kami mau temenan sama orang kaya kamu. Yang  tiap bikin kita darah tinggi!!!” ucap Danar kesal
“Ta....”
“STOPPP!!! Jangan jawab, itu bukan pertanyaan. Kepala sekolah nelpon nih. kalian jangan berisik ya” ucap Rio seraya meraih ponselnya dan agak menjauh dari teman-temannya supaya tidak berisik. Akhirnya setelah 15 menit kemudian Rio kembali berkumpul dengan teman-temanya. Tapi kali ini, wajah Rio agak sedikit berbeda
“kenapa yo? Kepsek bilang apa?”tanya Danar
“ bukan apa-apa. O iya soal video dokumenter itu aku setuju. Dan aku sendiri yang akan mengambil video itu dari setiap jurusan” ucap Rio sangat bersemangat.
“sendirian? Apa kamu serius?”tanya Beny
“hmmm...tapi sepertinya aku juga akan membutuhkan bantuan kalian. Bagaimana? Kalian setuju kan?”tanya Rio dengan nada sedikit memaksa
“dasar si Rio!! Pake nanya lagi, kita kan sahabat. Ya pastilah kami akan membantu kamu, ya gak ben?”
“pastinya”
“oke, sip!!! Kalau begitu kita mulai dari besok ya”
***
Mereka bertiga pun mulai mengumpulkan video-video dari setiap jurusan untuk kemudian dibuat menjadi film dokumenter. Mereka juga mengumpulkan video tentang kesan dan pesan dari guru-guru tentang kelas 12 tahun ini.  Akhirnya setelah 2 minggu berlalu mereka berhasil mengumpulkan semua video dari setiap jurusan. Akan tetapi Rio tiba-tiba saja teringat bahwa ada satu video lagi yg belum diambilnya. Video itu adalah video dari jurusan akuntansi. Jurusan yang selama ini sering berseteru dengan jurusan Rio.karena itulah Anak-anak jurusan akuntansi pun sepakat memilih Dhini sebagai perwakilan dari jurusan akuntansi. Awalnya Dhini setuju dengan amanah yang di berikan oleh teman-temannya kepadanya. Akan tetapi, ketika ia tau yang akan mengurus pembuatan video itu adalah Rio, Dhini pun menolak
“Din, kamu mau kemana?” tanya Danar pada Dhini yang hendak pergi
“aku tidak setuju dengan ide pembuatan video ini”
“tapi kenapa?” ucap Beny menambahkan
“pokoknya aku tidak setuju” ucap Dhini bersikeras
Mendengar ucapan Dhini, Rio pun mendekat kearah Dhini. Dan sekarang Rio sudah berada di hadapannya
“coba kasih kita alasan yang lebih spesifik?”ucap Rio pada Dhini dengan tatapan dingin
Melihat tatapan Rio, Dhini kelihatan agak kesal
“kamu serius ingin tau apa alasan ku menolak ide ini? Kau tau, menurutku ide ini sangat konyol!! Menurutmu apa gunanya video yang sudah kamu kumpulkan setiap hari untuk acara perpisahan sekolah? Video ini benar-benar tidak berguna!!!!” ucap Dhini kesal
“tidak berguna? Kalau kamu menganggap video ini tidak berguna, dengan kata lain, kamu juga menganggap bahwa sekolah ini tidak berguna. Dan waktu yang kamu habiskan selama juga tidak berguna”
“KAU!!!!!”
“kenapa ? aku benar kan?”
Dhini pun terdiam sejenak, lalu hendak meninggalkan ruangan itu
“kenapa pergi? Apa kamu takut ketahuan kalau kamu bohong? Aku tau, alasan yang kamu utarakan tadi adalah bohong. Alasan kamu menolak ide  ini yang sebenarnya adalah karena... karena aku kan?”
Mendengar desakan Rio, Dhini hanya terus terdiam. Sejenak memori lama dalam pikiran Dhini kembali terputar
FLASHBACK ON:
Hari itu adalah hari terakhir MOS siswa baru. Terlihat semua siswa baru yang mulai saling berbaur pun sangat ramai di kantin karena mereka lelah setelah mengikuti MOS. Begitu pula dengan Rio, Danar, dan Beny yang sedang duduk dikursi kantin bagian tengah. Akan tetapi, ketika mereka sedang sibuk berbincang tiba-tiba saja seorang gadis datang sambil menyodorkan bunga mawar kearah Rio
“Rio, would be my boyfriend?” ucap gadis itu dengan wajah tertunduk
Melihat hal itu otomatis semua siswa yang ada di kantin pun tertawa begitu pun dengan Beny dan Danar. Akan tetapi Rio hanya terus diam dengan wajah yang sangat serius
“apa? Tapi kenapa Din?” tanya Rio pada Dhini
“karena aku menyukaimu”
Mendengar ucapan Dhini, Rio hanya diam dan terus menatap wajah Dhini
“maaf ya Din, aku harus pulang sekarang. Ibuku sudah menungguku dari tadi” ucap Rio seraya mengambil tasnya lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Dhini
Melihat reaksi Rio, tawa di dalam kantin pun semakin pecah. Sedangkan Dhini hanya bisa tertunduk malu
“hahaha lucu sekali dia, kalau aku jadi dia aku akan pindah sekolah hari ini juga” ucap gadis-gadis di meja bagian pojok
Dhini pun kemudian membuang bunga itu dan segera pulang tanpa mendongkak wajahnya. Sejak saat itulah setiap bertemu Rio, Dhini pun selalu menghindar
FLASHBACK OFF
“tidak!!! Kamu salah !!! aku memang benar-benar menganggap ide ini sebagai ide yang konyol. Hal ini sama sekali tidak ada kaitannya denganmu” jawab Dhini kali ini dengan emosi yang lebih terkendali.
“Baiklah, kalau memang semua ini tidak ada kaitannya dengan Rio. Kamu harus mau mengikuti ide ini” ucap danar pada Dhini
“Danar benar, kalau kamu takut berarti kamu masih menyukai Rio. Bagaimana? Apa kamu berani?” tambah Beny
“oke, aku setuju” ucap Dhini menyerah
“nah gitu kek dari tadi”ucap Beny segera mengambilkan kursi untuk Dhini
“senyum dikit dong! Kamu itu udah jelek kalau cemberut nanti tambah jelek” ucap Rio sambil mengarahkan kamera nya dan hendak mengambil gambar
“iya... iya... mentang-mentang kamu ini ganteng dan sering dipuja-puja sama cewek-cewek disekolah. Kamu jadi seenaknya mengatakan kalau aku ini jelek” ucap Dhini dengan nada sedikit kesal
“dasar sensian !!!” ucap Rio memakyunkan bibirnya
“terserah aku kali.  Udah deh buruan, aku harus pulang sekarang”
“ iya-iya sabar”
DAN UNTUK PERTAMA KALINYA SEJAK KEJADIAN TIGA TAHUN YANG LALU, AKU BERBICARA PADANYA, AKU MELIHAT SENYUMANNYA, AKU MENDENGAR TAWANYA. AKU MERASA SEPERTI AKAN JATUH CINTA LAGI PADANYA, AKAN TETAPI AKU KEMUDIAN SADAR JIKA DIA... DIA BUKAN SESEORANG YANG KU TUNGGU
***
  3 minggu berlalu, dan hari ini adalah acara kelulusan siswa kelas 12. Terlihat pagi-pagi sekali Dhini sudah bangun dan mengenakan kebaya yang sudah di siapkannya khusus untuk acara kelulusan hari itu. Ketika sedang sibuk bersiap tiba-tiba saja ponsel Dhini berdering. Ada sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal yang meminta Dhini untuk menengok kearah jendela. Dhini lalu segera menengok kearah jendela. Betapa terkejutnya Dhini ketika melihat seorang lelaki dengan menggunakan jas hitam dan kemeja biru yang berada di luar rumahnya. Yang ternyata adalah Rio
“dia? Kenapa dia kesini pagi-pagi sekali”ucap Dhini pelan lalu terdiam sejenak dengan perasaan yang sangat gugup. Dan tiba-tiba saja ponsel Dhini kembali berdering. Ternyata kali ini Rio langsung menelponnya, akhirnya dengan sedikit ragu. Dhini pun menerima telpon dari Rio
“halo”jawab Dhini gugup
“halo assalamualaikum, lama banget sih nerima telponya”
“iya maaf-maaf. Memangnya ada apa?”
“keluar rumah sekarang! Aku ada di depan rumahmu”
“hah? Mau ngapain?”
“udah, buruan keluar”
“aku gak mau. Aku sibuk(hendak menutup ponselnya)”
“ehhhh, tunggu-tunggu. Ya udah kalau gak mau turun gak apa-apa. Aku taruh didepan rumah kamu ya”
“hah? Apaan?”
“ya udah. kalau penasaran liat keluar dong sekarang”
“aku bilang enggak ya enggak” lalu menutup telponnya dan meleparkan hpnya ke tempat tidurnya
“dia itu maunya apa sih? Dasar menyebalkan !!!”
Dhini kembali menatap kearah jendela. Kali ini Rio tidak kelihatan ada di luar lagi. Sepertinya dia sudah pergi sekarang. Dhini pun lalu segera menuju kearah pintu depan. Dan ketika ia membuka pintu. Tiba-tiba....
“KAU!!!”
“apa?”
“kenapa kau masih disini?”
“aku ingin bicara sesuatu”
“aku mohon yo, berhentilah memaksa ku. Kau tau? Aku itu sangat membencimu”
“membenciku? Tapi kenapa?”
“kau tau ? sejak kejadian itu aku membencimu. Aku sangat benci padamu sejak saat itu. Karena kau! masa Sekolah ku habis hanya untuk di kaitkan denganmu. Mulai dari penutupan MOS, acara api unggun tahunan Bahkan, di hari yang paling membahagiakan ini pun aku masih harus dikaitkan denganmu. Jujur, aku muak Rio. Aku muak !!!”
“benarkah kau sebenci itu padaku?”
“aku serius Rio. Aku bahkan tidak pernah seserius ini dalam hidupku. Aku benar-benar membencimu. Jadi ku mohon, pergilah dari hidupku mulai sekarang”
Mendengar ucapan Dhini, Rio hanya mematung. Rio terdiam untuk beberapa menit akan tetapi ia lalu tersenyum ke arah Dhini.
“tenanglah, doa mu akan segera terkabul sekarang. Aku memang akan pergi dari hidupmu. Aku kesini hanya ingin memberikan ini. Ini adalah rekaman video kemarin”
Dhini tak berkata apapun. Ia hanya segera mengambil pemberian Rio. Setelah itu, Rio pun langsung pergi dari hadapan Dhini.
“ o iya, Assalamualaikum” sedikit menoleh kearah Dhini lalu pergi
“waalaikumsalam”jawab Dhini pelan
***
Acara perpisahan di sekolah berlangsung dengan sangat meriah. Akan tetapi, Dhini malah hanya terus melamun. Sampai akhirnya film dokumenter yang dibuat oleh Rio di putarkan. Sejenak suasana hening, semua siswa tiba-tiba saja larut didalam suasana-suasana sekolah yang mulai mereka rindukan. Tiba- tiba saja Dhini kembali mengingat kata-katanya pada Rio tadi pagi
“Karena kau masa SMA ku habis hanya untuk di kaitkan denganmu.”
Dhini kemudian kembali fokus pada film dokumenter yang ada di hadapannya. Dan tiba-tiba saja dibagian akhir film, sebuah video dari Rio muncul
“hai semua...
Perkenalkan nama saya Rio Teguh dan Kebetulan yang mengumpulkan video-video yang sekarang kalian tonton sebagai film dokumenter ini adalah saya yang juga pastinya dibantu oleh kedua sahabat saya tercintah yaitu Danar dan Beny. Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada semua siswa kelas 12 yang sudah meluangkan waktunya untuk saya wawancarai. Jujur, saya sangat senang karena banyak di antara kalian yang sangat apresiasi atas ide yang saya dan anak-anak osis ini  buat untuk acara perpisahan sekolah kita. Yah walaupun ada juga sih yang dimintain buat wawancaranya itu susahnya pake bangetttttt, tapi.... kalian gak usah resah atau pun galauuuuu apalagi merana Hehehe karena apa? Kan ada ini nih( nunjuk diri sendiri). Bukannya mau sombong atau gimana. tapi harus kalian akui dong karena didukung oleh muka yang layak jual ini saya akhirnya bisa menyelesaikan film ini. hmmm.... Memang susahnya kalau sudah ditakdirkan ganteng dari sananya. Yah , mau gimana lagi terima aja deh... betul tidak teman-teman?hehehe oke-oke udah cukup boongnya, nanti dosa saya makin numpuk.
Dan Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan semangat untuk kita semua, karena  kita sebagai generasi muda yang dimana nasib negara kita adalah tanggung jawab kita. Tentunya kita harus berjuang dengan sangat keras. Oke saya rasa sudah cukup bicaranya. Dan untuk video yang terakhir ini , saya persembahkan khusus untuk seseorang yang setiap harinya membuat saya semangat kesekolah.. cielah jadi malu nih... oke deh langsung aja check this out !!!
(sebuah video kemudian diputar dengan backsound lagu Afgan feat Rosa “kamu yang ku tunggu”)
Melihat video itu, Dhini sangat terkejut. Semua foto-foto yang ada di dalam video itu adalah foto-foto Dhini mulai dari mereka mos sampai dengan foto-foto ketika Rio meminta Dhini untuk wawancara. Sejenak Dhini terdiam, Dhini sangat bingung kenapa Rio bisa memiliki banyak sekali fotonya.
“apa maksud Rio sebenarnya? Kenapa dia memiliki banyak sekali foto-foto ku?” gumam Dhini
Tiba-tiba saja Beny dan Danar datang. Mereka pun langsung duduk di sebelah Dhini
“kau tau? Rio sangat menyukaimu, bahkan sebelum kau menyatakan perasaanmu padanya dulu”ucap Beny pada Dhini
“jangan bercanda ben. Rio sama sekali tidak menyukaiku, buktinya dulu dia menolakku dan membuatku malu di depan orang banyak”
“lalu, kenapa dia memiliki banyak sekali foto-fotomu dan mengatakan bahwa orang yang di dalam foto itu adalah penyemangatnya kesekolah?” ucap danar pada dhini
“mungkin.....”
“mungkin apa din? Hari ini Rio akan berangkat ke Jerman untuk melanjutkan sekolahnya di sana. Kepala sekolah yang memberitahu kami kemarin”ucap Danar memotong ucapan Dhini
“apa?? apa kau serius?”
“tentu saja. Menurutmu, apakah Rio adalah tipikal orang yang mau membuat video seperti ini jika seseorang yang akan ditinggalkannya tidak sangat berarti? Menurutku tidak din. Dan kau tau itu?” tambah Beny
Dhini terdiam sejenak. Kini ia tau perasaan Rio yang sebenarnya
“pesawat yang di tumpangi Rio berangkat pukul berapa Ben?”
“30 menit lagi Din”
“oke... Thanks ya” ucap Dhini lalu segera pergi
“semoga sukse Din” ucap Beny dan Danar bersamaan
Dhini lalu  mengambil tas nya dan segera menuju ke bandara. akhirnya setelah 10 menit,Dhini pun tiba di bandara. bandara itu sangat ramai. Sangat sulit untuk menemukan Rio disana. Setelah 10 menit mencari, Dhini pun menyerah. Dia hanya bisa pasrah saat itu. Tapi ketika Dhini hampir menangis, seseorang tiba-tiba menghampirinya dan memberikan saputangan pada Dhini.
“Rio”
“jangan menangis ! kau itu sudah jelek. Nanti tambah jelek”
“kamu ini benar-benar menyebalkan. Kenapa kamu berbohong pada ku?”
“aku Berbohong? Tentang apa?”
“kau menyukaiku kan? Lalu kenapa kau dulu menolak ku? Kau tau, karena hal itu aku sangat membencimu”
“aku memang menyukaimu. Tapi aku terlalu takut untuk jatuh cinta. Aku tau aku belum bisa mencintai Tuhan dengan hati yang begitu luas. Aku hanya takut jika aku mencintaimu aku akan lalai dalam mencintai Tuhan. Lagi pun aku malu din, aku ini siapa? Aku belum pantas untuk mencintaimu saat ini. Tapi aku janji, jika suatu saat nanti ketika aku telah membahagiakan kedua orang tua ku aku akan memantaskan diriku sebagai orang yang kau tunggu”
Mendengar ucapan Rio, Dhini benar-benar sangat terkejut. Alasan Rio benar-benar membuat hati Dhini bergetar. Dhini pun hanya bisa diam, sedangkan Rio hanya terus menatap Dhini. Rio lalu memberikan sebuah kotak berukuran sedang dengan kertas kado berwarna biru muda
“pakailah dan teruslah percaya, jika kita adalah takdir. Tuhan akan selalu memiliki cara untuk mempertemukan kita kembali”
“tanpa ikatan?”
“aku tidak ingin ikatan yang membawa murka dan zina pada hati kita. percayalah Dhini, jika kau meminta Tuhan akan menjaga hati hambanya. Aku sudah telat nih, assalamualaikum” hendak pergi tapi Dhini menahannya
“tunggu !!! tapi ini apa?”
“lihatlah”
Dhini lalu membuka kotak itu, terlihat sebuah jilbab berwarna biru muda didalam kotak itu. Sejenak Dhini tersenyum
“jilbab?”
“mudah-mudahan kau menyukainya. Maaf aku hanya bisa memberikan itu padamu”
“tapi yo.  Aku mungkin belum siap untuk memakai jilbab”
“menurutmu jika kamu belum siap untuk memakai jilbab aku akan memberimu jilbab itu? Percayalah Din, jangan menunggu untuk berhijab. Cukup cinta yang membuat kita untuk menunggu. Aku percaya pada mu din, jadi kau juga harus percaya pada dirimu sendiri”
“tapi ...”
“percayalah...aku pamit din, Assalamualaikum” Rio lalu pergi meninggalkan Dhini dan keraguannya
“waalaikumsalam”
Sejenak Rio tersenyum ke arah Dhini. Semua keraguan yang semulanya ia rasakan kini telah hilang tanpa alasan. Rio kini sangat yakin untuk melanjutkan sekolahnya ke jerman dan meninggalkan perasaannya pada Dhini. Tiba-tiba saja  Rio sadar akan satu hal,  bahwa cinta sejati tak kan mati karena jarak yang jauh, cinta sejati takkan mati karena waktu. Cinta sejati itu akan tetap utuh pada hati yang mencintai dengan sewajarnya.

Seberapa pun lamanya waktu ini pergi
Sebuah Hati akan tetap menanti
Menantikan sebuah cinta yang suci
Sebuah cinta yang kan terukir abadi
Sebuah cinta yang takkan pernah mati
Sebuah cinta dengan ketulusan hati

Cinta yang dengan tulus dihadirkan oleh Tuhan
Cinta yang dengan tulus mendoakan tanpa bosan
Cinta yang dengan tulus ku tinggalkan pada seseorang

Ya...
Padanya lah ku tinggalkan cinta itu
Padanyalah ku hentikan pandanganku
Dan padanyalah hatiku telah berlabuh
Karena dia...
dia adalah seseorang yang ku tunggu..


SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar